AS Saint-Etienne adalah warisan masa lalu. Kekuatan sepakbola Prancis dua dekade silam yang terbenam ditelan sejarah sepakbola modern. Saat ini, kebesaran Les Verts hanya muncul dari rekor sepuluh gelar juara Ligue 1 Prancis yang belum mampu ditandingi klub lain.

Kota Saint-Etienne adalah ibukota wilayah Loire di Prancis. Kota berpopulasi hampir 200 ribu jiwa ini sangat dikenal kalangan penggemar sepeda internasional karena menjadi pusai industri kereta angin Prancis. Beberapa merek terkenal, seperti Mavic, Motobécane, dan Vitus berasal dari Saint-Etienne. Wajar jika pagelaran Tour de France setiap tahun selalu menyambangi kota ini.
Saint-Etienne memiliki sebuah stadion, Geoffroy-Guichard, berkapasitas 35.616 penonton yang dikenal dengan julukan Le Chaudron. Stadion ini pernah menjadi salah satu tempat yang menyelenggarakan Piala Dunia 1998. Tapi, sejarah Le Chaudron mendahului penyelenggaraan turnamen yang sukses membawa Prancis bertahta itu. Hampir 30 tahun lalu, Le Chaudron menjadi kuil masyarakat Saint-Etienne — atau Stephanois, begitu panggilan akrab masyarakat Prancis bagi penduduk kota ini — untuk merayakan supremasi mereka di kancah sepakbola.

Pada 1961, Roger Recher muncul sebagai presiden klub St-Etienne. Di bawah kepemimpinannya, ASSE, demikian sebutan publik Prancis, berjaya dengan menjuarai kompetisi domestik empat musim berturut-turut pada rentang 1967-1970 jauh mendahului supremasi Olympique de Marseille atau Olympique Lyon. Pada 1974 hingga 1976, ASSE kembali sukses menyabet gelar juara.

Tahun 1976 sekaligus menjadi penanda kegemilangan klub di kancah Eropa. ASSE mampu lolos ke final Piala Champions menantang juara bertahan Bayern Muenchen. Di Hampden Park, Glasgow, kapten Jean-Michel Larque memimpin tekad pasukan Les Verts merebut kejayaan internasional untuk kali pertama. Sayangnya, Bayern berhasil memenangkan pertandingan berkat gol tunggal Franz Roth.

La potheaux carre,” rutuk para pendukung Si Hijau hingga saat ini. “Tiang gawang” Hampden Park yang berbentuk “persegi empat” menjadi musuh utama tim kesayangan mereka. Sebuah peluang melalui Dominique Bathenay pada pertengahan babak pertama menghantam mistar. Kalau saja bola tepat sasaran, sejarah tentu akan lain.

Lima tahun berselang, periode keemasan ASSE berakhir. Recher dipaksa mundur dan dipenjara akibat sebuah skandal finansial. Para pemain bintang mereka pun hengkang, termasuk seorang gelandang hebat bernama Michel Platini yang hijrah ke Juventus. Gelar juara liga 1981 adalah koleksi ASSE yang terakhir di lemari gelar mereka hingga kini.

Setelah itu, ASSE terpuruk dan naik turun divisi. Musim lalu saja dihabiskan dengan berkutat di papan bawah klasemen Ligue 1. Les Verts berada di peringkat ke-17 dan nyaris terdegradasi karena hanya berhasil mengumpulkan lima poin dalam enam pekan terakhir kompetisi. Begitu memasuki musim 2010/11, publik mencibir, paling-paling tim warisan masa lalu ini kembali berkutat di jurang degradasi nan hina dina.

Tanggal 25 September 2010. Hinaan itu berubah jadi decak kekaguman. Pada edisi Derby du Rhone ke-100 melawan tetangga provinsi yang lebih perkasa, Lyon, St-Etienne sukses menang 1-0. Indahnya kemenangan tak hanya karena diraih di markas lawan. Persaingan keduanya begitu kental karena tidak saja mewakili sentimen kekuatan ekonomi dua kota yang bertolak belakang, tetapi juga karena Lyon mampu menggantikan status St-Etienne sebagai klub terdepan di Prancis dewasa ini.

Un grand soir!” sergah pelatih Christoph Galtier. Malam yang hebat.

Tendangan bebas Dimitri Payet meluncur deras pada menit ke-74 tanpa sanggup dibendung Gregory Coupet. Untuk kali pertama dalam 16 tahun terakhir, St-Etienne mampu mengalahkan Lyon. Bagi kiper Jeremie Janot, kemenangan itu menghapus derita selalu menjadi pecundang dalam 11 pertemuan terdahulu.

St-Etienne menjulang tinggi di pucuk klasemen Ligue 1 hasil lima kemenangan dalam tujuh pekan, sedangkan Lyon tersuruk di papan bawah. Untuk malam yang hebat itu, kejayaan masa lalu seolah kembali hadir buat segenap Stephanois.

Meski demikian, Galtier tetap menjaga sikap rendah hati. Sepertinya pelatih 44 tahun itu tahu betul riwayat klub yang penuh liku. Apalagi, karier Galtier sendiri lebih banyak dihabiskan dengan menjadi tangan kanan mentornya, Alain Perrin.

Galtier adalah bekas pemain kelas gurem. Setelah beberapa kali pindah klub di Prancis, pria yang berposisi sebagai bek itu menghabiskan karier bermain di klub Cina, Liaoning Yuandong. Karier di area teknis dihabiskan dengan menguntit Perrin: beberapa musim di Marseille, pindah ke Portsmouth, sampai akhirnya merapat ke St-Etienne. Mulai musim lalu, Galtier dipercaya mendapuk jabatan sebagai juru taktik tim. Kiprah yang dijawabnya dengan hasil nyaris terdegradasi.

“Kalau dibilang pada awal musim kami bisa tampil seperti ini, saya pun tidak akan percaya. Tapi keadaan dapat berubah dengan cepat,” seru Galtier.

“Kami tak boleh terlena. Kami harus ingat akan selalu ada masalah suatu ketika.”

Kerja keras Galtier di Le Chaudron diimbuhi dengan pendekatan kekeluargaan kepada para pemain. Tak jarang sang pelatih mengajak makan keluarga pemain setiap usai bertanding. Apa resep lainnya?

“Resepnya adalah kerja keras sejak Januari. Para pemain berjuang menyelamatkan tim, mereka tidak mau mengalami nasib seperti musim lalu,” ungkap Galtier.

“Tim diperkuat beberapa pemain berpengalaman serta munculnya pemain berbakat. Saya senang bekerja dengan tim ini dan staf saya mampu menerjemahkan filosofi kerja yang saya inginkan.”

Di jajaran manajemen klub, ada nama yang cukup dikenal fans sepakbola Inggris. Damien Comolli. Bekas pemantau bakat Arsenal dan direktur olahraga Tottenham Hotspur itu kini menjadi direktur olahraga St-Etienne. Hasilnya, beberapa aktivitas transfer musim panas yang mumpuni.

Les Verts melepas kepergian Yohan Benalouane ke Cesena dan Mouhamadou Dabo ke Sevilla. Sebagai pengganti, jajaran manjemen mendatangkan pemain berpengalaman macam Carlos Bocanegra dan Laurent Batlles, serta bek Sylvain Marchal yang menjadi duet Laurent Koscielny di Lorient musim lalu.

Para pemain lama ternyata tak mau kalah. Gelandang Blaise Matuidi mulai diintip klub-klub top Eropa antara lain seperti Arsenal; Emmanuel Riviere yang langganan timnas Prancis U-21; Sylvain Monsoreau dan Loic Perrin yang menemukan lagi bentuk permainan terbaiknya; serta jangan lupa, Dimiri Payet.

Nama terakhir tak hanya menjadi fenomena baru sepakbola Prancis, tapi juga Eropa. Payet sudah mencetak tujuh gol dalam tujuh pertandingan. Jika dihitung rataan gol dengan menit bermain, pemain asal Kepulauan Reunion itu masih lebih baik dibandingkan dengan Didier Drogba, Florent Malouda, hingga Edin Dzeko!

“Cara berpikir kami sudah berubah. Kami menyingsingkan lengan baju dan mau berjibaku ketika situasi sedang pelik,” jelas pemain berusia 23 tahun ini memaparkan kunci sukses versinya.

Maksud Payet adalah para awak tim kini bermain sebagai sebuah kesatuan. Saking takutnya kembali terancam degradasi, semua pemain bahu membahu membela pertahanan saat dibutuhkan. Payet sendiri mau berdiri di depan garis gawang mementahkan dua kali peluang Lyon dalam derby mendebarkan itu.

Selain kekompakan itu, Les Verts merupakan tim yang teguh. Lima kemenangan berhasil mereka wujudkan setelah lebih dahulu menjebol gawang lawan-lawannya. Dua laga sisa berakhir dengan kekalahan di kandang Paris Saint-Germain pada pekan kembuka, serta hasil imbang tanpa gol melawan Toulouse.

Untuk sesaat, Payet boleh menikmati kejayaan pribadinya selain merayakan keberhasilan sementara Les Verts. Pintu timnas Prancis perlahan terbuka meski Laurent Blanc belum pernah mencetuskan niat memanggilnya secara terang-terangan. Padahal, Payet hampir saja meninggalkan klub akibat bersitegang dengan Matuidi. Untung saja, liburan musim panas di Reunion serta konsultasi dengan keluarga mampu mendinginkan kepalanya.

Tantangan masih terbentang di depan St-Etienne. Liga baru berjalan tujuh pertandingan dan tidak sedikit contoh tim kejutan yang akhirnya nelangsa di akhir musim. Tapi, tentu saja ada contoh tim kejutan yang mampu memapankan posisi hingga akhir kompetisi.

“Saya rasa mereka bisa melaju terus. Sungguh penting tampil baik sejak awal musim dan mereka mampu melakukannya. Kenapa mereka tidak bisa seperti Montpellier musim lalu?” puji Perrin mendorong semangat bekas anak asuhnya. Montpellier adalah tim promosi yang mampu merengkuh posisi ke-5 klasemen akhir dan lolos ke Liga Europa.

“Payet memberi bukti sebagai pemain berbakat. Pertahanan mereka tampak stabil. Galtier benar-benar memperbaikinya dan bisa mengandalkan kiper Janot, seorang kompetitor sejati. Mungkin pengalaman mereka adalah sebuah kekurangan, tapi mereka menutupinya dengan perekrutan pemain yang baik.”

Pada pekan kedalapan, Galtier akan bertemu dengan klub awal kariernya, Marseille. Menariknya, Galtier masih kerap menghubungi pelatih tim juara bertahan itu, Didier Deschamps, untuk bertukar pikiran. Apapun, Galtier tidak boleh minder. Pertemuan mereka pekan depan adalah pertemuan bernilai historis sekaligus antara dua kekuatan unggulan Ligue 1 musim ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *