Ada satu ungkapan dari Benjamin Franklin yang cukup terkenal: cuma ada dua hal yang spesial di dalam kehidupan, kematian dan pajak. Ketika kembali pada abad ke-18, Amerika Serikat tidak memiliki konsep bebas pajak seperti yang diterapkan Monaco, tim yang menggelontor uang belanja secara gila-gilaan tapi mereka memiliki kemampuan untuk menghindari dua istilah yang dikemukakan Franklin.

Sebuah kesepakatan yang akan memungkinkan klub kerajaan mempertahankan markas mereka di Monaco tercapai pada bulan lalu dan artinya klub tersebut, yang menjadi tim dengan pengeluaran terbesar dunia selama musim ini, akan terus menghindari pembayaran pajak di Prancis untuk para pemain-pemain asing mereka. Kritik yang melawan Monaco agar keluar dari Prancis pun perlahan mereda. Hal ini pernah disuarakan presiden Bordeaux Jean-Louis Tiraud dan presiden Montpellier Louis Nicollin, yang berusaha melawan fakta keuntungan bebas pajak yang dimiliki Monaco.

Meski demikian, masih ada segelintir anggapan yang sepertinya akan terus melekat menyebut Monaco tetaplah bukan salah satu akar dari Ligue 1, dengan status outsider mereka yang memaksa para kritikus untuk tak berhenti bersuara negatif terhadap negara yang bertengger di pos berbatu pantai Mediterranean ini.

Tapi sejarah Monaco – dengan segala kondisi yang sedang dihadapi mereka – menunjukkan jika sebaliknya mereka justru bisa berada di jalur yang benar.

Selama bertahun-tahun klub kerajaan memiliki salah satu akademi sepakbola terbaik di Eropa. Manuel Amoros dan Bruno Bellono, yang berada di antara skuat Prancis yang memenangkan Piala Eropa ’84, merupakan pendahulu nama-nama mentereng macam Emmanuel Petit, Lilian Thuram, David Trezeguet dan Thierry Henry, pemain-pemain yang sudah mencapai supremasi sejati bagi timnas.

Ketika Monaco bisa mendaratkan nama besar nan mewah seperti Radamel Falcao, James Rodriguez dan Joao Moutinho, mereka nyatanya tetap mampu memproduksi youngster-youngster berbakat Prancis secara impresif. Bek kiri Layvin Kurzawa secara konstan telah mengukuhkan posisi di sektor belakang tim sepanjang musim ini dan telah dihadiahi perpanjangan kontrak, sementara wakil kapten Valere Germain, Jessy Pi dan pemain prospektif Marcel Tisserand, yang sekarang dipinjamkan ke Lens, semua sudah terlibat rutin setiap minggu di skuat utama pada musim ini.Di sisi yang lain, Monaco boleh membanggakan fakta selama periode musim 2012/13, terhitung ada 40 pemain profesional di Ligue 1 dan Ligue 2 datang melalui akademi mereka.

Pemandangan kontras justru berada di rival besar mereka, Paris Saint-Germain, di mana hanya ada nama youngster Adrien Rabiot yang benar-benar membuat impresi di tim utama mereka musim ini, namun apa artinya bila kemudian Cabaye datang, yang mana langkah perekrutan ini boleh jadi semakin meyempitkan peluang berkembang Rabiot di tim utama.

Perekrutan pemain Prancis di Parc des Princes sejatinya adalah sesuatu yang baru. Klub ibu kota terbilang sukses membangun sebuah tim yang mampu bersaing di Liga Champions, namun absennya muka-muka lokal dalam skuat mereka patut digarisbawahi. Selain Blaise Matuidi dan Adrien Rabiot, tak satu pun ada wajah Prancis yang sudah membuat 10 penampilan di Ligue 1 musim ini, itu pun Rabiot sebagian besar memulainya dari bangku cadangan.

Sekalipun dengan hadirnya Cabaye, rasio ini agaknya sulit meningkat sebab diyakini tiga pemain akan berebut di satu lini [sektor gelandang sentral dalam strategi Laurent Blanc] di dalam skuat.

Sungguh ironis, karena Monaco sering dikategorikan tim asing atau dengan kata lain tak pernah dianggap sebagai klub Prancis, apalagi jika dikaitkan dengan rivalnya yang berada di ibu kota. Lima nama-nama Prancis di bawah ini padahal setidaknya telah memberi setengah dari kontribusi tim di musim ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *