Ultras Marseille melakukan perjalanan ke Naples dalam pertandingan Liga Champions 2013/2014. Tapi berita tentang bentrokannya dengan polisi yang memakan korban luka justru menjadi insiden yang lebih mendominasi berita ketimbang pertandingannya. Begitu pun ketika memukul mundur Ultras Athletic Bilbao sebelum pertandingan Liga Eropa 2015/2016. Kala itu terjadi peperangan di jalanan dan di sekitaran stadion San Mames.Jelang Piala Eropa 2016 di Prancis, Ultras Marseille juga membuat sensasi dengan membuat spanduk ucapan selamat datang kepada para pendukung Inggris. Tidak hanya melalui spanduk, tulisan itu juga gencar disebarkan di media sosial. “Selamat datang fans Inggris,” tulisnya. Tapi ucapan penyambutan itu bukanlah sebuah ramah tamah bagi para suporter Inggris di Marseille. Bukan berarti mereka akan menyambut dengan ramah dan membiarkan para pendukung Inggris menikmati indahnya Pantai Mediterania untuk sekadar berenang di sana. Justru para Ultras Marseille menginginkan mereka berenang dan tenggelam dalam perkelahian dan tumpah darah.

Maklum, Ultras Marseille membenci aksi hooliganisme pendukung Inggris yang acapkali membuat keonaran di negara lain dan adanya bumbu-bumbu sayap kanan atau faham neo-nazi, yang salah satunya sering dilakukan Headhunters, pendukung garis keras Chelsea.

Kemudian, hari pertama para pendukung Inggris di Marseille pun sudah mendapatkan gangguan dari ultras setempat. Esok harinya, para pendukung Inggris yang sedang duduk menikmati bir dan keindahan kota justru mendapatkan serangan dari Ultras Marseille pun pecah di Queen Victoria Pub.

“Kami sedang duduk di lapangan dengan lantai bebatuan yang bagus dan beberapa makanan. Itu adalah suasana yang benar-benar tenang, benar-benar tidak ada nyanyian (chant Inggris) dan itu semua sangat santai. Lalu semua orang tiba-tiba berlari ke alun-alun, diikuti polisi dengan anjing beberapa menit kemudian. Itu berjalan cepat dan kami memiliki waktu yang tepat. Tapi sekitar 20 menit kemudian, sekelompok orang berjalan melewati dan melemparkan botol ke fans Inggris dan kekacauan pecah. Mereka tampak seperti Ultras Marseille. Mereka tidak suka fans Inggris berada di wilayah mereka,” ujar Billy Grant, salah satu pendukung Inggris yang merekam bentrokan memakai kamera video, seperti yang dikutip dari Mirror.

Terkait kebencian mereka kepada para suporter sayap kanan, tidak lepas dari faham sayap kiri yang dianut Ultras Marseille. Ideologi itulah yang mendasari persahabatan dengan Ultras AEK Athena dan Livorno. Faham itu dianut atas latar belakang multikulturalisme di Marseille.

Maka tidak heran terjadi kesenjangan politik dan persaingan yang berlangsung dengan Ultras PSG bernama Kop of Boulogne. Ada episode berskala panjang atas konfrontasi di antara mereka. Ada persaingan luar biasa antara dua klub di kota terbesar Prancis itu. Persaingan Marseille dan Paris tidak terlahir dari sepakbola atau geografi antara wilayah selatan dan utara Prancis saja, tapi ada peperangan antar kelas di antara mereka. Para pemodal adalah gaya Paris, sementara Marseille mewakili kelas pekerja. Jelas itu sangat kontras dan semakin menambah bumbu persaingan antara kedua kubu tersebut.

Pertempuran mereka tampaknya tidak akan pernah berakhir. Pada faktanya pun bahwa masing-masing pendukungnya dilarang datang dalam pertandingan antara mereka yang bernama Le Classique. Sebab selalu ada interaksi yang bermasalah antara pendukungnya. Pertandingan di semifinal Coupe de France 1995 adalah aib bagi pertemuan keduanya. Bentrokan antara Ultras Marseille dan PSG menyebabkan sembilan polisi dirawat di rumah sakit. Sebanyak 146 perusuh ditangkap dan ratusan lainnya mengalami luka serius. Bentrokan kekerasan massal dan terjadi di jalanan. Paling parah, sampai ada salah satu Ultras PSG kehilangan nyawa atas sebuah konflik yang terjadi. Konon, itulah yang membuat adanya keputusan untuk melarang kedatangan Ultras Marseille atau PSG ke salah satu kandang mereka.

Ultras Marseille juga tidak cuma galak kepada kelompok lainnya, mereka juga pernah mengamuk di Velodrome ketika dikalahkan Rennes pada Ligue 1 musim lalu. Ultras Marseille kesal karena kekalahan itu membuat Marseille terpuruk di papan tengah klasemen sementara. Kemudian rentetan buruk Marseille membuat terlempar ke atas zona degradasi Ligue 1 2015/2016. Sebagai salah satu kesebelasan papan atas, Marseille cuma terpaut empat angka dengan zona degradasi pada April 2016. Pada saat itu jugalah Ultras Marseille menunjukkan sebagai kelompok yang kritis. Mereka melakukan protes dengan menampilkan kambing yang berarti kemiskinan dalam silsilah Prancis. Mereka juga mengkritik kebijakan klub karena membiarkan Andre-Pierre Gignac, Andre Ayew, Dimitri Payet dan Marcelo Bielsa pergi.

Soal loyalitas pemain, Marseille memang sangat kritis. Mahthieu Valbuena yang sudah dianggap legenda pun dicap pengkhianat karena membela Olympique Lyonnais pada musim lalu. Slogan “Bangga menjadi Marseillais” sangat populer di sana. Baru-baru ini pun mereka menolak Didier Drogba ketika muncul wacana kembali ke Marseille. Spanduk protes pun diutarakan Ultras Marseille yang bertulis “Drogba, berhenti mencintai Marseille. Berhenti mengasihi diri Anda dan kembalilah ke Tiongkok”. Tapi aksi kritis Marseille itulah yang membuat Eric Cantona jatuh cinta kepada mereka. Selain ia dibesarkan di salah satu desa di kota tersebut, Ultras Marseille berperan penting ketika pemberontakan atas hirarki klub yang penuh korupsi pada 1980-an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *