Ketika orang kaya Rusia bernama Dmitry Rybolovlev menguasai dua per tiga kepemilikan AS Monaco pada Desember 2011, banyak pihak yang menganggap klub asal negara kecil Monako itu bisa meniru lompatan instan Chelsea, Manchester City, atau tetangga mereka di ibu kota Prancis, Paris Saint-Germain.

Gelontoran uang Rybolovlev memang terjadi, terutama saat Monaco promosi ke Ligue 1 Prancis pada 2013. Di bursa transfer musim panas tahun itu, Monaco menjadi salah satu tim terboros dengan total belanja hampir menyentuh €150 juta. Radamel Falcao menjadi yang termahal (€60 juta), diikuti James Rodriguez (€45 juta), dan Joao Moutinho (€25 juta).

Tak sampai setahun berselang, Rybolovlev tiba-tiba membuat kebijakan radikal. Monaco malah melakukan pengetatan anggaran, di antaranya melego James ke Real Madrid dengan harga hampir dua kali lipat lebih mahal dan mengasingkan Falcao ke Inggris. Kritik dari seantero Prancis — karena Monaco diuntungkan sistem bebas pajak di negaranya — dan hukuman Financial Fair Play yang membayangi disebut-sebut menjadi pemicunya.Namun, wakil presiden Monaco Vadim Vasilyev membeberkan alasan yang lebih menarik terkait perubahan dramatis itu. “Ada dua cara yang bisa dipilih. Pertama, Anda menginvestasikan banyak uang dan melakukannya cepat-cepat. Kedua, Anda membangun proyek cerdas yang berlandaskan pada akademi, pengamatan bibit unggul (scouting), dan kerja keras,” terangnya.

Monaco memilih jalan yang sulit. Setidaknya ada empat efek samping yang terjadi sejak itu: Monaco sulit memenuhi ekspektasi sebagai pengganggu PSG, gagal mengangkat satu pun trofi, menampilkan gaya bermain yang cenderung membosankan, dan Falcao menjadi bahan lelucon di Inggris.

Kesabaran akhirnya berbuah manis. Simsalabim, siapa yang menduga empat dampak negatif di atas tersebut kini justru berbalik memihak Monaco. Paling sederhana, simak statistik gol mereka di musim 2016/17.

Kendati di partai terakhir mereka takluk 5-3 dari Manchester City dalam leg pertama babak 16 besar Liga Champions, Rabu (22/2) dini hari WIB, kekalahan itu sudah lebih dari cukup untuk menyadarkan publik bahwa Monaco adalah tim yang benar-benar berbeda di musim ini.

Dengan sukses mencetak tiga gol tandang di Etihad, maka Monaco total sudah mengemas 111 gol di semua kompetisi musim ini. Jumlah gol itu resmi menjadikan Les Rouges et Blancs sebagai yang tertajam di antara seluruh tim di lima liga top Eropa, termasuk mengangkangi duo raksasa Spanyol, Barcelona dan Real Madrid.

Peluang lolos ke perempat-final Liga Champions memang menipis, namun tim besutan Leonardo Jardim itu masih berpeluang meraih tiga gelar domestik. Mereka tengah memuncaki Ligue 1, tinggal mengalahkan PSG di final Coupe de la Ligue, dan sudah berada di babak 16 besar Coupe de France.

Tidak sembarang tim yang mampu mencatatkan 2,64 gol per partai. Statistik impresif itu, menariknya, diraih Monaco tanpa ada banyak pemain berlabel bintang di dalam skuat mereka.

Falcao mungkin sudah tidak layak menyandang status bintang karena sinarnya sudah meredup dalam dua musim terakhir. Namun striker veteran Kolombia itu seperti terlahir kembali dengan menunjukkan progres signifikan di musim ini. Dari hanya mencetak satu gol di musim lalu bersama Chelsea, El Tigre kini sudah mengemas 24 gol dan menjadi topskor Monaco.

Selain Falcao, nama-nama penggawa inti Monaco seperti Kylian Mbappe, Valere Germain, Bernardo Silva, Thomas Lemer, mungkin terdengar asing bagi fans sepakbola yang memandang Ligue 1 musim ini hanya sebatas pada kegagalan PSG bertengger di puncak klasemen. Tapi justru karena merekalah Monaco bisa tampil seagresif dan seproduktif seperti sekarang.

Jardim gemar menerapkan 4-4-2 di musim ini, sebuah formasi klasik namun punya daya rusak yang dahsyat karena ditempati oleh para pemain berkarakter ofensif. Falcao dan Germain menjadi dua striker reguler, sementara Mbappe sukses mencuri perhatian karena perannya sebagai penyerang pelapis yang mampu diandalkan.

Disebut-sebut sebagai titisan Thierry Henry, striker yang baru berusia 18 tahun itu sudah mengemas 12 gol dan 8 assist di semua ajang. Mbappe pula yang turut menceploskan satu gol tandang kontra City dan beberapa pekan sebelumnya mampu mengemas hat-trick ke gawang Metz.

Agresivitas Monaco di musim ini juga tidak bisa dilepaskan dari pemain sayap mereka, Silva dan Lemar. Duo winger itu disokong full-back Djibril Sidibe dan Benjamin Mendy. Keempatnya sangat rajin untuk merangsek ke depan dan yang terpenting, melepaskan crossing dan umpan terobosan berbahaya, untuk dituntaskan Falcao, Germain, atau Mbappe.

Hal itu membuat skema Monaco ketika menyerang berubah menjadi 2-4-4 yang superagresif. Bahkan, gelandang bertahan Fabinho dan bek sentral Kamil Glik ikut ketularan subur dengan sudah mengemas masing-masing tujuh dan enam gol.

Satu laga fakta menarik dari kebangkitan Monaco adalah keberhasilan mereka dalam pengembangan pemain muda. Perlu diketahui, sejak lama Monaco kesulitan merekrut pemain di bawah usia 14 tahun akibat wilayah negara Monako yang terlampau kecil untuk menemukan bocah-bocah berbakat. Seperti ditulis The Guardian, Monaco harus mencari youngster yang sudah mencapai tahap usia lanjut.

Namun, keterbatasan ini justru menjadi berkah terselubung karena memaksa Monaco melakukan scouting lebih intens ke seluruh penjuru Prancis. Mbappe menjadi salah satu contoh terkini yang sukses, di mana ia ditemukan di sebuah kota kecil di dekat Paris sebelum diboyong ke La Turbie, akademi Monaco, dan berkembang pesat seperti sekarang ini.

Si Merah-Putih memang sejak lama terkenal sebagai gudangnya calon bintang muda Eropa, terutama Prancis. Sebut saja Yannick Carrasco, Layvin Kurzawa, Geoffrey Kondogbia, Anthony Martial, hingga para pahlawan lawas seperti Emmanuel Petit, Lilian Thuram, David Trezeguet, dan Thierry Henry.

Kini gelombang baru muncul, dipimpin oleh Mbappe. Pemain lain seperti Lemar, Silva, Tiemoue Bakayoko mungkin bukan jebolan La Turbie, tapi mereka tidak akan semelejit sekarang tanpa keberpihakan Monaco kepada pemain muda. Tak heran Monaco punya skuat termuda kedua di Ligue 1 musim ini dengan rata-rata usia 23,82 tahun, hanya kalah dari Nice (23,35).

Melihat proyek Monaco yang mulai menorehkan tinta emas, rasa-rasanya Ligue 1 bakal punya jagoan baru yang tidak kalah menakutkan ketimbang PSG.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *