Satu klub disebut besar bukan hanya karena prestasi di lapangan, tapi juga karena performa di luar arena. Karena itu, Olympique Lyonnais (OL) bermimpi memiliki stadion.Ketika mendominasi sepak bola Prancis pada tahun 2000-an, Lyon mencanangkan proyek besar. Klub yang dimiliki pengusaha Jean-Michel Aulas (JMA) itu ingin menjadi salah satu klub terbesar di Eropa.

Untuk merealisasikan proyek tersebut, OL mesti berjaya di Liga Champion dan sukses secara bisnis. Memiliki stadion sendiri menjadi salah satu cara untuk membuat proyek tersebut tercapai.

Sejak tahun 1950, OL berkandang di Stade Gerland, stadion milik pemerintah Kota Lyon. Dengan memiliki stadion sendiri, OL bisa berkuasa penuh dan pendapatan klub akan naik. Aulas berkata, pendapatan klub akan melonjak dari 21 juta euro saat masih di Gerland menjadi 100 juta euro kala sudah bermarkas di stadion baru.

Pada September 2008, wilayah seluas 50 hektar di Decines-Charpieu, kota satelit Lyon, diumumkan sebagai lokasi rumah baru OL. Selain stadion, di sana juga akan dibangun pusat pelatihan klub, zona bisnis, pusat medis, hotel, dan restoran.

Mewujudkan impian tak mudah. Di Prancis, pembangunan stadion biasanya menggunakan uang publik.

OL harus meyakinkan publik bahwa mereka membiayai sendiri pembangunan stadion.

Setelah mendapat persetujuan dari pemerintah Prancis, ada saja hambatan yang dihadapi OL, seperti prosedur administrasi yang lamban, kepentingan politik, dan penolakan warga Decines.

Langkah OL menjadi mudah setelah Prancis terpilih sebagai tuan rumah Euro 2016.

Pada November 2013, JMA melakukan peletakan batu pertama pembangunan stadion. “Impian menjadi kenyataan bagi semua orang Lyon,” kata Aulas saat itu.

Bernilai 9,5 Triliun
Dana 640 juta euro (9,5 triliun rupiah) dihabiskan untuk proyek impian OL ini, di mana 410 juta di antaranya terpakai untuk pembangunan stadion.

Uang publik yang terpakai sebesar 180 juta. Uang publik tersebut hanya dipakai untuk memperbaiki akses infrastruktur menuju stadion.

Stadion bernama Parc Olympique Lyonnais akhirnya diresmikan pada 9 Januari 2016.

Pertandingan Liga Prancis antara Lyon melawan Troyes menjadi partai pertama di stadion tersebut.

“Saya bangga. Stadion ini luar biasa. Para pemain bahagia seperti anak-anak kala membuka kado Natal mereka,” kata pelatih OL, Bruno Genesio, di World Soccer.

Berkapasitas 59.186 penonton (untuk Euro 2016 menjadi 59.000), arena ini menjadi stadion sepak bola terbesar ketiga di Prancis setelah Stade de France di Saint-Denis, Paris, dan Stade Velodrome di Marseille.

Parc Olympique Lyonnais mendapat klasifi kasi Kategori 4 UEFA sehingga bisa menjadi arena final Liga Champion. Stadion ini memiliki 6.000 tempat VIP dalam 105 boks-boks khusus.

Aulas bisa tersenyum, tetapi impian utamanya belum terwujud.

Tidak seperti pada tahun 2000-an, OL tidak lagi mendominasi sepak bola Prancis. Mereka kalah bersaing dengan Paris Saint-Germain.

Jalan untuk menjadi klub besar Eropa masih panjang buat OL.

DATAFAKTA
Parc Olympique Lyonnais
Lokasi: 10, Avenue Simone Veil 69150 Décines-Charpieu France
Pembangunan: 12 November 2013
Tanggal Pembukaan: 9 Januari 2016
Kapasitas: 59.000
Pemilik: OL Groupe
Pengelola: OL Groupe
Pengguna: Olympique Lyonnais

Parc Olympique Lyonnais merupakan salah satu stadion yang ditunjuk untuk menggelar pertandingan-pertandingan Euro 2016. Stadion ini adalah venue baru yang mulai dibangun pada tanggal 22 Oktober 2012. Juga disebut dengan nama Grand Stade dan Stade des Lumières, stadion ini merupakan markas tim Ligue 1 Olympique Lyonnais dan terletak di dekat Décines. Parc Olympique Lyonnais menggantikan stadion lama yang menjadi kandang Lyon, yaitu Stade de Gerland, pada bulan Januari 2016.

Berikut beberapa fakta tentang Parc Olympique Lyonnais.

1. Stadion yang punya tempat duduk sebanyak 59.186 buah ini pertama kali diumumkan pembangunannya oleh Presiden Olympique Lyonnais Jean-Michel Aulas pada tanggal 1 September 2008. Kala itu, proyek ini dinamai OL Land, yang mencakup lahan seluas 50 hektar di Décines-Charpieu, pinggiran Lyon.

2. Total pembangunan stadion ini menelan dana sebesar 415 juta euro. Sejak pertama diumumkan, proyek ini mengalami banyak kendala, mulai dari prosedur administratif yang lambat, tarik ulur kepentingan politik, hingga tentangan dari kelompok oposisi yang menganggap pembangunan stadion ini salah secara finansial, ekologis, dan sosial.

3. Pertandingan yang paling pertama digelar di Grand Stade adalah duel Lyon melawan Troyes dalam lanjutan Ligue 1 pada tanggal 9 Januari 2016. Lyon menyudahi perlawanan Troyes dengan skor telak 4-1.

4. Dibangun di daerah pinggiran Lyon, Grand Stade sebenarnya hanya berjarak 10 kilometer dari pusat kota Lyon, tepatnya di sebelah timur kota. Penonton bisa mengunjungi stadion ini menggunakan transportasi umum berupa tram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *